Buku Tidak Hanya Berhenti di Rak: Gagasan Unik Mufida Berawal dari Kegemarannya pada Membaca

Weekly Updates

Buku Tidak Hanya Berhenti di Rak: Gagasan Unik Mufida Berawal dari Kegemarannya pada Membaca

Sumber: dokumen pribadi

Pernahkah kamu membayangkan jika sebuah buku yang kamu miliki dapat membuka kesempatan bagi banyak orang untuk membaca, berbagi cerita, dan mendapatkan buku yang diinginkan secara gratis? Gagasan sederhana inilah yang melatarbelakangi lahirnya Outsco Book Movement, sebuah gerakan yang digagas oleh Mufida Mutmainah Almardiyah, seorang mahasiswi Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM) angkatan 61.

Ide ini merupakan output dari komunitas yang sedang ia ikuti, yaitu IPB Outsco. Dalam komunitas tersebut, ia tergabung dalam Divisi Social Movement yang berfokus pada pelaksanaan aksi nyata melalui berbagai kegiatan yang memberikan dampak bagi masyarakat.

Setiap tim dari masing-masing divisi diwajibkan untuk membuat sebuah grand project sebagai syarat kelulusan dari komunitas tersebut. Mufida bersama enam rekan satu timnya sepakat memilih isu pendidikan sebagai fokus utama kegiatan mereka. 

“Ada sebuah grand project untuk lulus. Tim aku anggotanya terdiri dari tujuh orang yang sama-sama memilih isu pendidikan,” ujar Mufida.

Kegemarannya membaca buku menjadi awal terbentuknya gerakan ini. Rekan satu timnya juga memiliki ketertarikan yang sama terhadap buku. Mereka pun merasakan harga buku di pasaran saat ini cukup mahal. Bagi sebagian mahasiswa, uang yang dimiliki lebih sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dibandingkan untuk membeli buku. Di sisi lain, Mufida juga merasa jarang menemukan teman untuk saling berbagi cerita mengenai buku yang telah dibaca. Bahkan, menurutnya hal tersebut cukup sulit ditemui di lingkungan sekitarnya.

Outsco Book Movement terdiri dari tiga kegiatan utama, yaitu tukar buku, temu buku, dan adopsi buku. Sistem tukar buku dilakukan dengan menyetorkan buku pada saat weekday di empat titik yang telah ditentukan. Titik pertama berada di Common Class Room (CCR), Fakultas Pertanian (Faperta), dan Fakultas Kehutanan (Fahutan). Titik kedua berada di Fakultas Peternakan (Fapet), Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB), serta Sekolah Sains Data, Matematika, dan Informatika (SSMI). Titik ketiga berada di Fakultas Perikanan (FPIK), Fakultas Ekologi Manusia (FEMA), dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Titik terakhir berada di Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM), Fakultas Teknik dan Teknologi (FTT), serta lokasi umum lainnya.

Kriteria buku untuk dapat disetorkan yaitu memiliki orisinalitas dengan genre bebas dan masih layak dibaca. Setelah melakukan penyetoran buku, mahasiswa ataupun masyarakat umum dapat memilih dan mengambil buku sesuai keinginan pada akhir pekan (Sabtu dan Minggu). Mufida dan tim menyediakan stan dengan memajangkan buku-buku di titik yang telah ditentukan. Putaran pertama berada di selasar Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) dan putaran kedua berada di Node Arsitektur Lanskap (Node ARL).

Kegiatan ketiga yaitu temu buku yang dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan pengambilan buku. Temu buku ini berkolaborasi dengan berbagai komunitas literasi seperti Bogor Book Party, IPB Book Party, dan Komunitas Aksaraya Semesta. Kegiatan ini diawali dengan membaca buku bersama selama dua puluh menit, kemudian peserta saling bertukar cerita mengenai buku yang telah mereka baca. Selain ketiga kegiatan tersebut, terdapat kegiatan adopsi buku yang ditujukan bagi seseorang yang ingin menyumbangkan bukunya saja tanpa mengikuti pengambilan buku saat weekend. Adopsi buku juga dapat diikuti oleh orang yang tidak memiliki buku untuk ditukar, tetapi mereka dapat memperoleh buku dengan cara mengadopsinya

Sumber: dokumen pribadi

Budaya membaca di kalangan anak muda saat ini sangat penting terutama bagi mahasiswa. Ia menilai bahwa mahasiswa merupakan kelompok minoritas di negara ini jika dibandingkan dengan nonmahasiswa. Tanpa kebiasaan membaca, kemampuan fokus dan pemahaman mahasiswa tidak akan terasah dengan baik. Mahasiswa merupakan harapan bangsa karena dapat berperan sebagai agent of change. 

“Budaya membaca ini sangat penting bagi mahasiswa, karena dapat kita ketahui mahasiswa itu kelompok minoritas dibandingkan nonmahasiswa. Fokusnya tidak akan terasah jika tidak memiliki kebiasaan membaca,” ungkap Mufida.

Kegiatan Outsco Book Movement dimulai pada awal Februari lalu. Tidak ada syarat khusus untuk mengikuti kegiatan ini, baik mahasiswa maupun masyarakat umum dapat berpartisipasi. Menariknya, kegiatan tukar buku lebih banyak diikuti oleh mahasiswa, sedangkan kegiatan temu buku justru didominasi oleh masyarakat umum. 

Mufida dan tim memperkenalkan kegiatan ini dengan memanfaatkan berbagai media sosial seperti grup dan status WhatsApp, serta melalui akun Instagram @outscobookmovement. Melalui media sosial tersebut, mereka memberikan berbagai informasi mengenai kegiatan yang dilakukan hingga ajakan untuk berpartisipasi. Antusiasme peserta dapat terlihat dari banyaknya buku yang disetorkan untuk ditukar, kunjungan stan saat weekend, dan partisipasi dalam kegiatan temu buku. Respons dari teman-teman SKPM juga beragam, mulai dari memberikan dukungan hingga menghubungi Mufida secara langsung dan berakhir ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Mufida juga membagikan pengalaman menarik selama kegiatan berlangsung. Saat ia dan tim sedang menjaga stan, tiga orang mahasiswa internasional asal Pakistan datang menghampiri. Awalnya mahasiswa internasional tersebut mengira buku-buku tersebut dijual. Mufida dan tim kemudian menjelaskan menggunakan Bahasa Inggris mengenai kegiatan Outsco Book Movement tersebut. Mereka terlihat cukup antusias mendengar kegiatan tersebut dan menanyakan apakah tersedia buku berbahasa Inggris kepada Mufida. Sayangnya, saat itu belum ada buku berbahasa Inggris di stan tersebut. Meskipun demikian, mereka tetap memberikan semangat kepada Mufida dan tim sebelum pergi melanjutkan aktivitasnya.

Di balik antusiasme yang cukup tinggi, kegiatan ini masih menghadapi beberapa tantangan. Kendala utama yang dikatakan Mufida adalah keterbatasan sumber daya manusia mengingat anggota timnya hanya berjumlah tujuh orang. Walaupun kegiatan ini awalnya dibentuk sebagai bagian dari tugas, Mufida berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut. Ia berharap kepada mitra maupun komunitas lain untuk dapat menggagas kegiatan serupa agar kegiatan seperti Outsco Book Movement dapat berkelanjutan dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat.


Pena Penulis

Penulis: Fitri Oktaviani
Editor: Azahra Fidiyanti
Penanggung Jawab: Michela Valeda Septria

Instagram: himasiera
Rajut Makna, Taut Rasa