Menuju Emas di PIMNAS! Intip Proses Panjang dalam Perjalanan PKM
Menuju Emas di PIMNAS! Intip Proses Panjang dalam Perjalanan PKM

Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) merupakan wadah yang dibentuk oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi dan Sains Teknologi (KEMDIKTISAINTEK) Republik Indonesia. Program ini bertujuan memfasilitasi mahasiswa Indonesia untuk mengkaji, mengembangkan, dan menerapkan ilmu pengetahuan bagi masyarakat.
Adapun beberapa kategori PKM saat ini, yaitu PKM-Riset Eksakta (PKM-RE), PKM-Riset Sosial-Humaniora (PKM-RSH), PKM-Kewirausahaan (PKM-K), PKM-Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM), PKM-Penerapan IPTEK (PKM-PI), PKM-Karsa Cipta (PKM-KC), PKM-Karya Inovatif (PKM-KI), PKM-Gagasan Futuristik Tertulis (PKM-GFT), PKM-Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK), dan PKM-Artikel Ilmiah (PKM-AI).
PKM memiliki beberapa tahap seleksi hingga akhirnya tim terbaik dari setiap kategori akan berkompetisi sebagai finalis dalam ajang Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS). Pada ajang PIMNAS inilah, para finalis akan berkesempatan untuk meraih medali juara. Oleh karena itu, PKM menjadi salah satu kompetisi yang paling diminati mahasiswa. Bagaimana tidak? Meraih medali emas di ajang PKM merupakan sebuah kehormatan yang patut dibanggakan!
Hal ini dialami oleh Zalfa, SKPM 60, yang berhasil meraih medali emas PKM-RSH pada tahun 2025. Sejak PPKU, Zalfa sudah memiliki ketertarikan tinggi terhadap PKM. Awalnya, ia tertarik untuk mengikuti PKM-PM. Namun, saat itu ia belum mendapat tim atau lingkungan yang mengarah ke sana.
Hingga akhirnya, ia diajak bergabung dalam tim PKM-RSH. Zalfa sempat ragu, karena ini bukanlah bidang PKM yang ia tuju. Akan tetapi, seiring berjalannya proses, ia menyadari bahwa PKM-RSH adalah bidang yang paling cocok untuknya. Menurut Zalfa, kunci utama dalam menjalani PKM ini adalah niat. “Semua orang dalam kelompok harus punya visi yang sama karena butuh kerja sama tim. Kalau yang serius cuma 1-2 orang, itu bakal susah banget.”.
Selain itu, kemauan untuk terus belajar dan mengejar ketertinggalan juga menjadi hal penting. Kita harus haus akan ilmu, tidak boleh berhenti belajar, dan mencari tahu untuk memecahkan permasalahan. “Selain itu, tujuannya jangan hanya untuk diri sendiri, karena kan gampang capai atau mundur. Tapi, kalau orientasinya beneran untuk masyarakat,” ujar Zalfa. Di sisi lain, aspek teknis seperti mematuhi semua aturan atau panduan juga tidak kalah krusial.
Namun, perjalanan panjang dalam segala proses PKM ini tentu tidaklah mudah bagi Zalfa dan tim. Dinamika tim hingga rasa burnout menjadi tantangan yang harus dihadapi. Selain itu, kesulitan dalam mencari dosen ahli dan stakeholder juga menjadi hambatan tersendiri. Untuk mengatasinya, mereka melakukan rekonsiliasi tim dan kumpul bersama. “Kuncinya adalah respect, komunikasi, dan saling terbuka satu sama lain,” ungkap Zalfa.
Setelah keberhasilannya di PIMNAS, Zalfa aktif terlibat dalam berbagai kegiatan yang relevan dengan bidang pengembangan masyarakat dan riset-riset sosial. Ia juga membuka ruang diskusi bagi pejuang PKM untuk berkonsultasi terkait riset dan proses perancangan proposal PKM-RSH.
Zalfa memberi tip kepada teman-teman mahasiswa yang sedang mengikuti proses kompetisi PKM untuk stay on track, konsisten, dan mengikuti panduan yang ada. Pesannya, “Jangan membatasi diri kita dan jangan minder! Saat kita jalani, kita akan bisa lebih dari yang kita kira, dan kita lebih hebat dari apa yang kita bayangkan.”.

Sementara itu, Gilan, SKPM 61, tengah menjalani tahap pengajuan proposal PKM-PM melalui SIMBELMAWA. Bagi Gilan, mengikuti PKM merupakan langkah untuk keluar dari zona nyaman sekaligus mengembangkan prestasi akademik melalui program pemberdayaan masyarakat. Ia mengakui bahwa prosesnya tidak mudah, terutama dalam hal manajemen waktu dan komitmen, terlebih ketika harus membagi fokus dengan kegiatan lain dan jadwal akademik. “Kebetulan selain PKM, aku juga ada beberapa kesibukan lain dan karena PKM ini perlombaannya berbasis riset yang harus ngajuin proposal, jadi komitmen sejak awal memang harus dibangun sih,” ucapnya.
Untuk menjaga konsistensi, Gilan menekankan pentingnya komunikasi dan keterbukaan dalam tim. Selain itu, ia juga memanfaatkan Google Calendar untuk mengatur jadwal agar tidak saling bertabrakan sehingga ia dapat mengatur skema dalam mengambil keputusan. “Misalkan emang lagi ada kesibukan, coba terbuka aja ke anggota kelompok. Intinya bonding antar anggota kelompok itu perlu banget biar paham satu sama lainnya,” tambah Gilan. Sejauh ini, insight baru yang Gilan dapat selama proses PKM adalah bahwa timnya harus benar-benar fokus. “Sesimpel kayak ngurusin proposal aja kita harus cross-check berkali-kali biar bisa zero mistake,” ungkapnya. Selain itu, PKM ini mengajarkan Gilan untuk memahami anggota kelompok. “Kebetulan kelompok aku tuh kan beda-beda departemen, ya, jadi banyak pandangan beda yang bisa jadi insight baru buat kita,” ujarnya.
Ke depan, Gilan berharap timnya dapat memberikan hasil terbaik dan melangkah hingga PIMNAS. “Semoga memang jika ditakdirkan lolos semuanya dilancarkan. Pasti harapan kita semua yang ikut PKM tuh sama, ya, bisa lolos PIMNAS, dapat gold medal, dan membawa kembali penghargaan adikarta,” tutup Gilan.
Pena Penulis
Penulis: Sarah Zakia Rahma
Editor: Lintang Hanif Kamila Mufti
Penanggung Jawab: Michela Valeda Septria
Instagram: himasiera
Rajut Makna, Taut Rasa